Essay
Sarjana untuk Bunda
Kebiasaan hari ini adalah cerminan
masa depan. Bibit yang kita tanam sekarang adalah bakal dari pohon yang akan
kita tuai dua puluh tahun yang akan datang.
Sebagai manusia yang sedang dalam
usia produktif, sudah menjadi sebuah keharusan untuk berkegiatan produktif
pula. Usia muda sebisa mungkin untuk diisi dengan hal-hal yang positif untuk
terus tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang lebih baik, berprestasi serta
mempunyai semangat belajar dan bekerja yang tinggi.
Menjadi mahasiswa yang notabene
adalah manusia berpendidikan, sudah seharusnya adil sejak dalam pikiran
kemudian merambat ke perbuatan dan mempunyai sebuah tujuan. Memiliki
perhitungan dan presisi yang baik mengenai perencanaan masa depan, baik bagi
diri sendiri, keluarga, lingkungan, agama dan bangsa. Tak sedikit dari pemuda
yang bingung, kira-kira habis ini akan ke mana? Akan melakukan apa? Bersama
siapa? Bagaimana caranya? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu tak muncul sekali
dua kali, namun berpuluh-puluh kali.
Jika pada anak di bawah umur ada
masa yang dinamakan usia emas (golden age), pada masa remaja tingkat akhir ada
yang namanya platinum age, usia platinum. Mengapa platinum? Karena platinum
adalah logam yang tak kalah mahal dan berharga dibanding emas. Di masa platinum
ini, seseorang dapat leluasa mengekspresikan diri sesuai dengan passion yang ia
miliki untuk kemudian berkembang menjadi sesuatu hal yang memiliki dampak
penting bagi kehidupannya kedepan, dampak tersebut bisa merupakan dampak baik
namun tak dipungkiri bisa juga berupa dampak buruk. Tergantung dari manusianya.
Untuk membangun sebuah masa depan
yang cerah, memanfaatkan masa sekarang dengan sebaik-baiknya tak boleh lepas
dari ingatan. Mencoba memanfaatkan diri agar berguna bagi orang lain, tidak
mudah menyerah dan pandai membuat prioritas menjadi aspek penting yang perlu
diperhatikan.
Kita para calon manusia yang akan
menyandang gelar sarjana tidak boleh egois dengan menjadikan gelar tersebut
hanya sebagai kebanggaan diri sendiri dan menjadi gelar yang tanpa arti. Siswa
yang sudah berimbuh kata “Maha” di depannya, berkewajiban mengabdikan diri dan
membawa perubahan sekurang-kurangnya bagi diri sendiri, baru kemudian bagi
bangsa dan negara. Sudah hakikatnya mahasiswa adalah aset dan agen perubahan
bangsa. Kontribusikan diri dengan aktif berorganisasi dan berkegiatan sosial
untuk melatih soft skill, hard skill dan pengalaman, supaya nantinya ketika
terjun di dunia pasca-sekolah sudah memiliki potensi dan kepribadian yang mahir
akan kemampuan. Tidak menjadi beban bangsa.
Sibuk
di organisasi, komunitas dan kegiatan sosial, tidak boleh membuat kita lupa
akan tanggungjawab kita kepada orang tua untuk menjadi mahasiswa yang mempunyai
hasil yang baik dalam bidang akademik. Menuntut ilmu tetap sebagai hakikat yang
sesungguhnya di ranah perkuliahan.
Dengan
mendaftar Program Beasiswa Baituzzakah Pertamina adalah sebagai wujud usaha
saya merealisaikan keinginan untuk tidak bergantung pada orang tua, bilamana
orang tua merasa terberatkan oleh biaya pendidikan di perguruan tinggi dan saya
ingin menjadi pribadi yang dapat dibanggakan. Saya siap menjalani
program-program yang terkait dengan pemberian beasiswa, sebagai bentuk upgrading diri supaya bisa lebih
berkembang dan bertambah kemampuan. Program Beasiswa Baituzzakah Pertamina juga
dapat menjadi vasilitas penunjang para awardee-nya untuk aktif dalam kegiatan supaya
masa muda menjadi produktif selama menjalani masa kuliah.
Yang
sekarang harus kita lakukan adalah menyelesaikan gelar sarjana “penuh arti”
dalam kurun waktu yang ideal, untuk kemudian sesegera mungkin mengabdikan diri
bagi keluarga dan bangsa. Tidak menjadi beban dan semoga dapat menciptakan
perubahan kearah yang lebih baik. Mengabdi untuk bunda sebagai ibu di rumahku
dan bagi Indonesia sebagai Ibu Pertiwi-ku.
(Oleh:
Uli Aprilia M.)
Komentar
Posting Komentar